Breaking News
Loading...

IG : @kokesmauntirta

IG : @kokesmart

Recent Post

Selasa, 26 September 2017
KOPINDO Jalin Silahturahmi ke KOKESMA UNTIRTA

KOPINDO Jalin Silahturahmi ke KOKESMA UNTIRTA

Ketua Koperasi Pemuda Indonesia (KOPINDO) Bapak Pendi Yusup Mukhtar Efendi melakukan kunjungan ke Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten dalam rangka menjalin silahturahmi dengan Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa  (KOKESMA) UNTIRTA pada Jumat (22/9/2017). Silaturahmi  yang terjadi antara pihak kopindo dan kokesma untirta menghasilkan suatu kesepakatan, yaitu membangun komunikasi antara sekunder (KOPINDO) dengan primer (KOKESMA).



“Kesannya itu seharusnya kaya raya nih koperasi. Karena mahasiswa nya banyak, asetnya ada, anggotanya ada. “ ujar Pendi Yusup Mukhtar Efendi selaku ketua KOPINDO

Namun, hal tersebut masih banyak yang harus dibenahi seperti  pengurus, infrastruktur, dan kantornya. Kegiatannya pun harus lebih menarik dan harus sesuai dengan publik kampus, penggunaan medianya tidak hanya melalui media cetak tapi juga menggunakan media sosial.

Gunanya media sosial tidak hanya untuk hal-hal yang baru, tetapi media sosial itu bisa  berguna untuk mempromosikan produk-produk yang dipasarkan oleh kokesma itu sendiri,  mengajak semua mahasiswa untuk bekerja sama, dan saling bahu- membahu. bisa meningkatkan kapasitasnya masing-masing. Apakah kapasitasnya itu hubungannya dengan ilmunya masing-masing, ataupun juga membantu, koperasi ini terbuka untuk semua pihak. 



Pendi Yusup Mukhtar Efendi selaku ketua kopindo mengungkapkan,- “harapan saya koperasi ini bisa terbuka dengan semua pihak, semua orang tanpa terkecuali. Dengan orang di luar kampus pun harus kenal, karena jika kita kenal dengan semua orang kalian akan punya inpirasi di dalamnya. Ngobrol sama orang di luar sana, yang berjualan bakso atau jualan gorengan. Ibu orang mana? Dari mana? Udah lama jualan di sini bu? Segitu saja mereka akan senang ditanya seperti itu. ‘oh ibu mah sudah berteman dengan mahasiswa’. Mungkin pandangan mereka mahasiswa itu orang-orang yang hebat, kita boleh/tidak memberikan apa-apa kepada mereka, tapi minimal buat mereka bahagia sedikit.”


Oleh: Hemaswari Tantia, Lutfiah, Noni Novitasari, dan Siti Nurdyanah
Minggu, 17 September 2017
no image

Kisi-Kisi SCF 2017

Bagi para peserta rangkaian lomba Student Cooperative Fair (SCF) Kokesma Untirta 2017, kisi-kisi terkait dengan perlombaan, dapat di download di sini. (atau klik http://bit.ly/2ygSirL). Untuk info lebih lanjut, dapat menghubungi akun-akun official Kokesma Untirta. Terima kasih.
Selasa, 18 Juli 2017
Student Cooperative Fair (SCF) 2017

Student Cooperative Fair (SCF) 2017

STUDENT COOPERATIVE FAIR 2017 TINGKAT NASIONAL

Surat dan Juknis perlombaan dapat di unduh Lengkap di: http://bit.ly/SCF2017KOKESMAUNTIRTA

Student Corporative Fair (SCF) merupakan salah satu kegiatan tahunan yang rutin diadakan oleh Kokesma Untirta. SCF kali ini, diselenggarakan pada bulan Agustus-Oktober 2017.  Ada empat rangkaian lomba yang akan diadakan oleh SCF kali ini, berikut adalah lomba-lomba yang diadakan dalam kegiatan SCF.



1.       Olimpiade Koperasi
Merupakan kompetisi dalam rangkaian acara SCF 2017 yang diselenggarakan dengan tujuan untuk membentuk kader-kader koperasi di tingkat mahasiswa dan untuk memotivasi mereka dalam pengembangan dan penerapan wawasan perkoperasian.


a.       Setiap team terdiri dari 3 orang
b. Pendaftaran dapat dilakukan dengan mengunduh formulir pendaftaran di: www.kokesmaofficial.blogspot.co.id / https://goo.gl/WQKimh
c.       Booklet olimpiade koperasi: https://goo.gl/8QQY21
d.      Biaya pendaftaran per tim sebesar Rp325.000
e.      Tanggal pelaksanaan:
v Pendaftaran : 5 juli - 5 september
v Batas pembayaran : 5 september
v TM : 15 oktober
v Babak penyisihan dan final : 16 oktober
f.        Tempat pelaksanaan akan dilaksanakan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
g.       Contact Person: 085814145336 (widhi asri) / id line: widhiasrindiw
h.      Dapatkan total hadiah jutaan rupiah!



2.       Lomba Desain Maskot
Lomba desain maskot merupakan rangkaian acara SCF 2017 yang ditujukan untuk meningkatkan kreativitas mahasiswa. Acara ini mengusung tema "Terwujudnya Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Maju, Bermutu, Berkarakter dan Berdaya Saing dalam Kebersamaan"


a. Pendaftaran dapat dilakukan dengan mengunduh formulir pendaftaran di: www.kokesmaofficial.blogspot.co.id / https://goo.gl/WQKimh
b.      Booklet Lomba Maskot untirta: https://goo.gl/tyi74p
c.       Biaya yang dikenakan kepada setiap peserta sebesar Rp 50.000 untuk registrasi
d.      Tanggal pelaksanaan:
v pendaftaran : 5 Juli - 5 September 2017
v pengumpulan karya : 5 Juli - 18 September 2017
v pengumuman finalis 3 besar : 3 Oktober 2017
v daftar ulang finalis : 3 - 8 oktober 2017
v presentasi : 16 oktober 2017
e.      Contact Person: 087871789028 Shella Fajru Nailufar / id line : @shellalufar
f.        Dapatkan total hadiah jutaan rupiah!


3.       Motion Graphics Competition
Merupakan lomba motion graphics tingkat nasional yang diselenggarakan dalam event SCF 2017 Kokesma Untirta. Motion Graphics ini bertemakan "Kenali Koperasi, Mari Berkoperasi"


a. Pendaftaran dapat dilakukan dengan mengunduh formulir pendaftaran di: www.kokesmaofficial.blogspot.co.id / https://goo.gl/WQKimh
b.      Booklet Motion Graphics: https://goo.gl/gG3vd8
c.       Video dapat dikirim ke scfkokesmauntirta2017@gmail.com
d.      Tanggal pelaksanaan:
v Pendaftaran dan pengumpulan video : 5 juli - 5 september 2017
v Deadline pembayaran : 5 september 2017
v Pengumpulan karya : 5 juli - 18 september 2017
v Pengumuman pemenang : 3 oktober 2017
v Konfirmasi kedatangan : 3-8 Oktober 2017
e.      Contact Person: 08969205661 (Dhea Fajrin.B) / ID Line: ddheafb
f.        Dapatkan total hadiah jutaan rupiah!




4.       LKTI
Lomba Karya Tulis Ilmiah merupakan rangkaian acara lomba SCF 2017 yang akan diselenggarakan oleh Kokesma Untirta Banten. Kegiatan ini mengusung tema “Peranan Koperasi dalam Membangun Negeri" Dengan subtema sebagai berikut:
          i.          peran koperasi sebagai fasilitator modal ekonomi kreatif desa
        ii.          optimalisasi peran pemerintah dalam mendukung perkembangan koperasi
      iii.          peran mahasiswa dalam mewujudkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian indonesia



a. Pendaftaran dapat dilakukan dengan mengunduh formulir pendaftaran di: www.kokesmaofficial.blogspot.co.id / https://goo.gl/WQKimh
b.      Booklet LKTI: https://goo.gl/6ongjr
c.       Registrasi peserta Rp100.000
d.      Tanggal pelaksanaan:
v Pendaftaran dan pengumpulan full paper dapat dilakukan mulai tanggal 5 Juli sampai dengan 5 September
v Pengumuman 10 tim lolos : 30 September 
v Daftar ulang finalis : 30 September - 03 Oktober
v TM : 15 Oktober 2017
v Presentasi : 16 oktober 2017
e.      Contact Person: 087871118259 (Nuriyatul Hidayah)
f.        Dapatkan total hadiah jutaan rupiah


Untuk info lebih lanjut, dapat menghubungi secara langsung CP setiap lomba, atau bisa juga lewat sosial media milik Kokesma Untirta. 
Senin, 17 Juli 2017
no image

Wajah Satire Koperasi Kita

Menegakkan wibawa perkoperasian di Indonesia masih butuh perjuangan berat.  Jalan masih panjang untuk benar-benar merealisasikan jargon koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional. Salah satu penyebabnya, penetrasi koperasi di tanah air yang masih memprihatinkan.


Logo WCCOCU

Berdasarkan statistik WOCCU (World Council of Credit Union), pada akhir tahun 2012 lalu Indonesia memiliki 930 Credit Union atau Koperasi yang terdaftar resmi di Inkopdit dengan anggota individu 2.070.024 orang. Jumlah ini dibandingkan dengan jumlah penduduk baru mencapai sekitar 1,23%. Bandingkan dengan negara-negara lain yang lebih melek koperasi seperti Filipina dengan persentase 6,72%, Srilanka 6,24%, Thailand 7,24% atau Korea yang mencapai `16,54%. Jangan pikir negara kapitalis seperti Amerika Serikat alergi terhadap gerakan ekonomi kerakyatan ini. Persentase penduduk yang jadi anggota koperasi disana lebih tinggi lagi yaitu 45,39%. Bahkan kita masih berada di bawah  beberapa negara di Afrika yang masih berjibaku melawan kemiskinan seperti Malawi yang mencapai 1,25% dan Zimbabwe 1,93%.

Wajah Satire
Pekerjaan Rumah pertama adalah bagaimana membenahi mindsetmasyarakat mengenai koperasi. Sebagian orang masih menganggap koperasi itu hanya tempat simpan dan pinjam belaka. Karena fungsinya direduksi seperti itu, akhirnya koperasi pun kalah pamor dengan lembaga keuangan lain. Seperti Perbankan yang fitur-fitur simpanannya lebih komplit, dan Lembaga Pembiayaan yang pelayanan pinjamannya lebih canggih. Tidak usah heran persentase masyarakat yang menjadi anggota koperasi masih sangat minim.

Tidak bisa dipungkiri juga, faktor lain yang mendorong masyarakat resisten adalah masih ada noktah hitam pada gerakan koperasi yang diakibatkan oleh oknum-oknum yang mengambil keuntungan secara sepihak dari penggalangan dana masyarakat. Ini juga yang membuat sebagian orang lainnya mencibir begitu mendegar kata koperasi.

Dari pengalaman kawan-kawan di lapangan dan seringkali di alami sendiri pada saat sosialisasi Credit Union kami, masih banyak peserta yang bertanya bagaimana keamanan dananya. Atau pertanyaan seperti bagaimana jika besok-besok koperasinya bangkrut? Siapa yang mau tanggung jawab?  Pertanyaan yang wajar sebenarnya. Yang memprihatinkan, motivasi mereka bertanya bukan pertama-tama karena mencari tahu tata kelola Credit Union kami, tapi karena pernah tertipu oleh koperasi yang mereka ikuti sebelumnya.
Siapa yang tidak “trauma” kalau uang yang ditabung berbulan-bulan dengan nominal yang tidak sedikit mendadak ludes, karena pemilik atau pengelola koperasi itu kabur entah ke mana.

Dulu pernah ada koperasi yang berhasil menghimpun anggota dan dana yang banyak. Koperasi itu bernama Kospin, terbentuk di daerah Pinrang, Sulawesi Selatan. Anggotanya sampai ke Makassar. Saat itu Kospin berani menawarkan bunga tinggi kepada anggotanya, konon bisa mencapai 30% per bulan. Siapa yang tidak tergiur dengan bunga tinggi begitu? Maka berbondong-bondonglah masyarakat menjadi anggota pada koperasi tersebut. Anggota-anggota awal mungkin masih bisa merasakan manfaat tabungannya karena saat itu likuiditas koperasi masih digunakan sebagaimana mestinya. Tapi pada saat cash in sudah semakin banyak, seriring dengan pertambahan anggota, pengelola koperasi pun gelap mata lalu kabur meninggalkan anggota-anggotanya. Tidak sedikit anggota yang sudah menanamkan dana jutaan hingga puluhan juta rupiah.

Anehnya kasus-kasus seperti ini tidak kunjung membuat masyarakat jera pada praktik-praktik mencari keuntungan instan. Modus yang sama masih sering kita dengar terjadi. Terakhir masih segar di ingatan kita tragedi Koperasi Langit Biru yang telah merugikan lebih dari 100 ribu anggotanya.

Memang tidak semua permasalahan koperasi timbul karena pengelolanya yang memang berniat tidak baik. Bisa juga karena kapasitas pengelola yang belum memadai, atau pengetahuan mengenai manajemen keuangan dan perkreditan yang masih kurang. Masalah-masalah sehubungan dengan itu misalnya timbul kredit macet yang besar, atau biaya modal yang tinggi akibat cash inbanyak tapi pengelola tidak mampu memutar kembali sumber dana yang dimilikinya, sehingga koperasi terus merugi.

Untuk menalangi permasalahan seperti ini Pemerintah Kementerian Koperasi pun biasa menggelontorkan sejumlah dana dari APBN. Syukur-syukur kalau dana tersebut bisa segera memulihkan masalah likuiditas koperasi-koperasi yang bermasalah. Sayangnya, pemerintah belum memainkan fungsi pengawasannya secara maksimal. Efek belati bermata dua dari bantuan seperti ini adalah munculnya banyak koperasi siluman. Indikatornya adalah jumlah koperasi yang meningkat menjelang pengucuran dana bergulir, lalu setelah itu banyak diantaranya yang hilang tak berbekas. Bisa ditebak kantung siapa yang terisi.

Kabar Baik Koperasi
Ulasan fenomena di atas bukan untuk menakut-nakuti tapi untuk memberi tambahan wawasan kepada pembaca bagaimana sebenarnya keadaan di lapangan yang membuat sebagian orang memiliki paradigma negatif mengenai koperasi. Padahal jika koperasi benar-benar dijalankan sebagaimana mestinya, koperasi dapat menjadi sarana yang baik bagi masyarakat untuk memberdayakan diri dan mengembangkan potensi ekonominya.

Kemajuan gerakan koperasi di Propinsi Kalimantan Barat misalnya dapat menjadi contoh bagaimana koperasi benar-benar bermitra dengan masyarakat. Di kota Pontianak dan sekitarnya, ada Credit Union (CU) Khatulistiwa Bakti, CU Lantang Tipo, CU Keling Kumang, CU Pancur Kasih dan sejumlah Credit Union Besar lainnya. Di sana koperasi atau Credit Union telah berdiri puluhan tahun dan tetap eksis serta terus berkembang bersama masyarakat. Puluhan CU di sana bernaung di bawah beberapa CU sekunder (Puskopdit) yang juga tata kelolanya baik, seperti Puskopdit BKCU Kalimantan, Puskopdit Kapuas, dan lain-lain.

Di Pulau Jawa beberapa Credit Union juga masih berjalan baik dan tetap setia pada core business-nya, melayani orang-orang kecil misalnya CUMI (Credit Union Microfinance Innovation) Pelita Kasih di Blok Q Jakarta, kemudian CUPrimadanarta di Surabaya, dan beberapa Credit Union lainnya. Begitu pula di kepulauan Nusa Tenggara yang memang memiliki banyak koperasi. Sebagian di antaranya juga berjalan baik dan berhasil bermitra bersama masyarakat seperti CU Kasih Sejahtera di Atambua, CU Liku Aba di Sumba, CU Sinar Saron di Larantuka dan sejumlah CU lainnya.

Di salah satu tempat di pedalaman Sulawesi Barat, sebagian besar dari mereka adalah anggota koperasi simpan pinjam setempat yang telah berdiri puluhan tahun. Memang koperasi mereka agak statis jalannya, tapi ternyata di masa lalu koperasi itu jadi pahlawan yang menemani mereka melewati masa-masa susah. Sebagian besar dari mereka adalah transmigran asal NTT yang hijrah kurang lebih 30-an tahun lalu. Beberapa saat setelah mereka menetap di sana mereka pun sepakat mendirikan koperasi sebagai sarana berkumpul dan gotong royong dalam bidang ekonomi.  Hanya saja pada  saat itu uang bukanlah barang yang mudah diperoleh, karena lahan yang mereka garap belum menghasilkan dan subsidi dari pemerintah saat itu hanya berupa beras serta sembako seadanya. Jadi sebagai media cooperative-nya mereka menggunakan beras. Simpanan pokok, iuran wajib, pinjaman dan bunganya semuanya ditakar dalam bentuk beras. Jadi bila ada kepala keluarga anggota koperasi yang membutuhkan dipersilahkan meminjam beras dalam jumlah tertentu. Nantinya pengembalian pinjaman plus bunganya juga dalam bentuk beras. Kebiasaan itu berlangsung beberapa lama sampai peredaran uang mulai lancar karena tanah yang mereka olah sudah mulai menghasilkan. Cerita inspiratif tadi membuktikan kehadiran koperasi juga ikut berkontribusi bagi perkembangan ekonomi masyarakat.

Kesimpulannya, koperasi pada dasarnya berdiri di atas nilai-nilai luhur untuk membantu mengangkat potensi ekonomi masyarakat. Sayangnya, sebagian orang menggunakan kedok koperasi untuk menghimpun dana masyarakat demi keuntungan semata. Orang-orang seperti inilah yang seringkali mencoreng wajah perkoperasian kita. Sebagian koperasi lain berjalan di tempat karena kurangnya pengetahuan pengelolanya mengenai tata kelola koperasi. Untuk masalah yang terakhir ini, pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Koperasi dan UKM mesti memainkan peranannya lebih baik lagi.


(Ditulis oleh Pical Gadi. Sumber: http://www.kompasiana.com/picalgadi/wajah-satire-koperasi-kita_54f83e4aa33311ce5d8b4868, diakses pada tanggal 10 Juli 2017)
Jumat, 14 Juli 2017
Koperasi di Era Ekonomi Berbagi

Koperasi di Era Ekonomi Berbagi

Semenjak menjelang dan memasuki dasawarsa kedua dari abad ke-21 ini, maka dunia mengalami suatu perubahan dalam membangun interaksi antar-manusia yang berimbas pada perubahan mekanisme usaha. Perubahan ini tidak terlepas dari semakin majunya teknologi informatika yang berkembang didunia maya dimana manusia dengan mudahnya saling terkoneksi satu sama lain. Koneksi ini lalu dipermudah dengan munculnya mobile application  yang memudahkan koneksitas ini melalui peralatan seperti i-phone atau android sehingga dalam membangun komunikasi online, seseorang tidak harus terus duduk dihadapan PC. 


Pergerakan manusia berikut komunikasi yang menyertainya mau tidak mau membuat manusia dapat mempercepat pemenuhan kebutuhannya tanpa harus menunggu lama. Hal inilah yang lalu memunculkan ide pada segelintir orang untuk mendirikan sistem transportasi online dimana konsumen tidak perlu lagi menunggu taksi lewat atau menunggu taksi yang dipesan untuk datang dari pool-nya. Dengan sistem online, maka orang dapat dengan mudah terhubung pada pemilik kendaraan terdekat yang bersedia untuk mengantarkan mereka ke tujuannya. Inilah niat dasar dari aplikasi taksi online semacam Grab atau Uber. Inilah pula yang menjadi model bagi suatu ekonomi yang disebut sebagai ekonomi berbagi (sharing economy).

Dalam ekonomi berbagi ini, kepemilikan individu atas suatu benda tidaklah penting, tetapi kebermanfaatan benda itu untuk dapat dirasakan oleh semua oranglah yang menjadi sisi pentingnya. Dalam ekonomi berbagi, biaya menjadi murah karena seseorang tidak harus memiliki sesuatu untuk merasakan manfaat dari sesuatu tersebut. 

Ia hanya perlu membangun koneksi dalam suatu jaringan yang sama – sama ingin merasakan manfaat dari sesuatu tersebut dan lantas menjalin koneksi kepada penyedia dari barang dan jasa yang dibutuhkan tersebut. Untuk itu maka modal yang perlu ada dalam membangun ekonomi berbagi adalah adanya aplikasi online yang akan memudahkan keterhubungan penyedia barang dan jasa dengan konsumennya. Disini terlihat bahwa ekonomi berbagi sarat dengan semangat kebersamaan dimana semua kebutuhan dapat dibangun dengan menjalin suatu jaringan. 

Hal ini sesungguhnya merupakan suatu prinsip yang juga dibangun oleh Koperasi selama ini. Semangat kekeluargaan menjadikan Koperasi berusaha memenuhi segala kebutuhannya melalui kerjasama antar-anggota. Prinsipnya adalah bahwa sesama anggota memiliki kebutuhan yang sama yang harus diadakan oleh mereka sendiri melalui kerjasama. Disinilah muncul titik temu bagi Koperasi di era ekonomi berbagi ini. Koperasi memiliki prinsip serta organisasi yang sesuai untuk memperoleh keuntungan di era ekonomi berbagi ini. Melalui prinsip kekeluargaan, koperasi dapat membentuk suatu jaringan penyedia jasa yang sesuai dengan kebutuhan konsumen di era ini. 

Contohnya, para pemilik kendaraan yang ingin menjadikan kendaraannya sebagai bagian dari jaringan taksi online dapat membentuk sebuah Koperasi sebagai wadah usaha mereka. Para anggota bebas untuk melaksanakan kegiatan usaha taksi onlinenya, sedangkan lembaga Koperasinya menjadi wadah untuk – misalnya – mengelola aplikasi online untuk menghubungkan anggota dengan konsumen. Karena Koperasi merupakan suatu lembaga yang berasal dari anggota dan berjuang untuk kepentingan anggota, maka Koperasi dapat menjadi wadah yang fleksibel jika dihadapkan pada perusahaan dimana kepemilikannya hanya berada ditangan segelintir pemegang saham semata. Fleksibel disini berarti anggota Koperasi bebas untuk menjalankan usahanya tanpa adanya standar setoran wajib harian. 

Kewajiban mereka hanyalah kewajiban yang dibebankan kepada anggota koperasi pada umumnya yang meliputi simpanan pokok, simpanan wajib dan penyisihan untuk dana cadangan dari SHU yang didapat yang persentasenya ditentukan secara bebas dalam Rapat Anggota (seperti yang dijamin dalam UU no.25/1992). Hal ini tidak hanya berlaku pada jasa taksi online saja, melainkan juga dapat berlaku pada jasa online lain seperti distribusi barang, pengiriman dokumen, jasa pemindahan ( seperti pemindahan rumah dan pemindahan kantor ) serta jasa pemasaran online bagi Koperasi – Koperasi produksi ( seperti produksi makanan ringan atau obat – obatan herbal ). 


Untuk koperasi produksi, jasa online dapat dibentuk dengan bekerjasama pada Koperasi yang khusus bergerak dibidang pemasaran online (yang dapat menjadi suatu potensi bisnis pemasaran baru bagi Koperasi) atau dengan bersatu ditingkat Koperasi Sekunder untuk membuat platform online-nya sendiri yang dapat  dipergunakan oleh sesama anggota. 

Adapun Koperasi Simpan Pinjam dapat membangun aplikasi online untuk mempermudah layanan perkreditan bagi anggota dan konsumen pada umumnya. Melalui aplikasi online, maka Koperasi akan dapat meminimalisir komunikasi tatap muka dan yang berbasiskan kertas. Hal ini dapat terwujud melalui pengisian formulir secara online yang dapat segera diproses oleh Koperasi di kantornya dalam waktu yang cukup singkat. Lebih dari itu, melalui sistem online, Koperasi Simpan Pinjam dapat mengumpulkan data mengenai karakteristik konsumen secara umum agar dapat diperoleh gambaran mengenai kualitas dari konsumen serta potensi keuntungan atau kerugian yang dapat muncul dari penggunaan kredit yang mereka ajukan.

Secara umum, dengan menggunakan format badan usaha koperasi maka jasa online ini bepotensi akan lebih menarik ketimbang jika dijalankan oleh pelaku usaha swasta semata. Hal ini dikarenakan Koperasi yang pada prinsipnya merupakan lembaga dimana anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi yang direpresentasikan melalui Rapat Anggota. Dalam Rapat Anggota, semua anggota diperlakukan secara sejajar dan berhak bersuara untuk menentukan arah pengembangan usahanya. Hal ini berbeda dengan perusahaan swasta dimana kekuasaan hanya ada ditangan segelintir pemegang saham dan yang menentukan arah usaha juga hanya segelintir elitnya tersebut.

Era ekonomi berbagi ini bukan hanya dapat dimanfaatkan oleh Koperasi – Koperasi diatas. Lebih jauh lagi, aplikasi online juga seharusnya mampu dibangun oleh pemerintah melalui Kemenkop atau oleh Dekopin untuk menjalin koneksitas antara konsumen dengan KUD. Sistem online akan membuat KUD mampu memperluas jaringan usahanya yang akan berujung pada peningkatan keuntungan bagi mereka. Melalui sistem online ini diharapkan konsumen dapat memperoleh data mengenai apa yang diproduksi oleh KUD, seberapa besar kapasitas produksi KUD, berapa jumlah persediaan barang produksi KUD, berama lama waktu pengiriman dari KUD kepada konsumen dan lain sebagainya. 

Tentu dalam hal ini kita dihadapkan dengan kenyataan mengenai minimnya kualitas SDM di tingkat KUD yang tidak memungkinkan sistem online ini iberlakukan pada KUD di level primer. Akan tetapi di level sekunder hal ini bukan tidak mungkin dapat diusahakan. INKUD atau PUSKUD dapat menjadi pengelola sistem online dan KUD di level primer berkewajiban untuk selalu memberikan informasi harian yang dibutuhkan konsumen dari usaha mereka seperti diatas untuk dimasukkan dalam database dari sistem online ini sehingga informasi yang diterima konsumen selalu merupakan informasi yang terkini.

Konsumen untuk KUD ini dapat berasal dari perusahaan makanan dan minuman, restaurant dan perusahaan lain yang memanfaatkan hasil alam sebagai bahan baku produksinya. Melalui mekanisme diatas, maka diharapkan para konsumen ini akan dengan mudah membangun manajemen rantai pasokannya yang terkoneksi secara langsung dengan penyedia bahan bakunya tanpa harus melalui perantara yang panjang.

Akan tetapi ekonomi berbagi juga tidak melulu bergantung pada penggunaan IT. Kembali pada prinsipnya, maka ekonomi berbagi menekankan kepada kebermanfaatan suatu barang atau jasa untuk kepentingan bersama sehingga model pelaksanaannya hanya berdasarkan pada niatan untuk berbagi atau berkolaborasi. Hal ini dapat juga diwujudkan – misalnya – dalam bentuk patungan diantara pasien cuci darah untuk mendirikan Koperasi yang bergerak dibidang pelayanan jasa cuci darah dimana anggota hanya dengan kewajibannya membayar Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib bebas menggunakan jasa cuci darah tersebut. 

Jasa ini juga dapat diberikan kepada pasien non-anggota dengan mekanisme pelayanan yang dapat disesuaikan. Pemerintah atau pihak eksternal lainnya juga dapat mendukung melalui aspek pendanaan, pengadaan peralatan atau pelatihan bagi pelaksanaan jasa ini. Melalui hal ini maka sisi sosial sekaligus sisi usaha dari Koperasi dapat disinergikan dengan baik.

Akhirnya dengan masuknya koperasi di era ekonomi berbagi, maka diharapkan koperasi dapat bangkit kembali dan mampu menjadi pemain yang diperhitungkan didalam perekonomian nasional

--

(Ditulis oleh Julian Reza. Sumber: http://www.kompasiana.com/pelaksana/koperasi-di-era-ekonomi-berbagi-sharing-economy_59479b46f27a61a921e2f28a, diakses pada tanggal 10 Juli 2017)
Back To Top